IMAM MALIK (93H – 179H)
Biografi Profil dan Sejarah Singkat Imam Malik Madzhab Maliki - Perjalanan Hidup Salah Satu Imam Empat Mazhab
Imam Malik bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik, lahir di Madinah pada tahun 93 Hijriyah. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam mereka pindah ke Madinah
Berasal dari keluarga Arab yang terhormat dan berstatus sosial yang tinggi, baik sebelum datangnya Islam maupun sesudahnya. Kakeknya Abu Amir adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun kedua Hijriyah.
Imam Malik dikenal luas akan kecerdasannya. Suatu ketika beliau pernah dibacakan 31 buah hadits Nabi Muhammad dan mampu mengulanginya dengan baik dan benar tanpa harus menuliskannya terlebih dahulu.
Keluarganya termasuk ulama hadits terpandang di Madinah. Kakeknya adalah seorang perawi dan penghafal hadits yang terkemuka. Pamannya Abu Suhail Nafi’ adalah seorang tokoh hadits kota Madinah dan dengan beliaulah Imam Malik mula-mula mendalami ilmu-ilmu agama, khususnya hadits.
Abu Suhail Nafi’ ialah seorang tabi‘in yang sempat menghafal hadits dari ‘Abdullah ibn ‘Umar, ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah, Abu Hurairah dan Abu Sa‘id al-Khudri.
Suasana kehidupan Imam Malik di Madinah yang ketika itu dipenuhi dengan para tabi‘in amatlah menguntungkannya. Selain Nafi’, Imam Malik juga berguru dengan Ja’far as-Shadiq, cucu al-Hassan, cucu Nabi Muhammad. Imam Malik juga belajar di Masjid Nabawi dan berguru dengan Muhammad Yahya al-Ansari, Abu Hazim Salmah ad-Dinar, Yahya bin Saad dan Hisham bin ‘Urwah.
Imam Malik kemudian mengambil alih peranan sebagai tokoh agama di Masjid Nabawi, dan beliau juga bertindak sebagai Mufti Kota Madinah. Empat khalifah mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Harun Arrasyid dan Al Ma’mun pernah jadi muridnya.
Ulama-ulama besar Imam Hanafi dan Imam Syafi’i pun pernah menimba ilmu darinya, menurut sebuah riwayat disebutkan bahwa murid Imam Malik yang terkenal mencapai 1.300 orang. Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman dan rasa hormat murid terhadap gurunya.
Karya Imam Malik terbesar adalah bukunya Al Muwattha’ yaitu kitab fiqih yang berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan, dan dalam penyusunannya ia menghabiskan waktu 40 tahun, selama waktu itu ia menunjukannya kepada 70 ahli fiqih di Madinah.
Selain kitab tersebut, beliau juga menulis buku Al Mudawwanah Al Kubra. Imam Malik tidak hanya meninggalkan warisan buku, tapi juga mewariskan mazhab fiqihnya yang disebut sebagai Madzhab Maliki.
Karena sakit Imam Malik tidak mendatangi Masjid Nabawi selama 7 tahun di masa akhir hayatnya, hingga akhirnya wafat pada tahun 179 Hijriyah. Beliau dimakamkan di Pemakaman Baqi', Madinah. Di antara anak-anak murid beliau yang masyhur ialah ‘Abdarrahman bin al-Qasim al-Tasyri, Ibn Wahhab Abu Muhammad al-Masri, dan Yahya bin Yahya al-Masmudi.