Home » Entertainment » LIPUTAN PERNIKAHAN - RUWATAN - DHEA FAUS

LIPUTAN PERNIKAHAN - RUWATAN - DHEA FAUS

Written By Faustinus Adven Kris on Wednesday, Sep 20, 2017 | 03:24 AM

 
PERNIKAHAN 22 Juli 2017 di Ambarawa, Jawa Tengah, Indonesia Dalam proses pernikahan jawa, apabila salah satu dari pasangan adalah anak tunggal maka 2 hari sebelumnya harus diruwat terlebih dahulu. Salah satu upacara tradisi yang sekarang masih ditaati, dipatuhi, diyakini, dan dilaksanakan oleh masyarakat Jawa yaitu tata upacara ruwatan. Ruwatan berasal dari kata “ruwat” dan mendapatkan sufik -an. Kata “ruwat” mengalami gejala bahasa metatesis dari kata “luwar”, yang berarti terbebas atau terlepas. Maksud diselenggarakan upacara ruwatan ini adalah agar seseorang yang “diruwat” dapat terbebas atau terlepas dari ancaman mara bahaya (mala petaka) yang melingkupinya. Seseorang yang oleh karena sesuatu sebab ia dianggap terkena sukerta/ aib (klesa = Jawa Kuna), maka ia harus diruwat. Tradisi kepercayaan yang dimiliki masyarakat Jawa, bahwa seseorang yang oleh karena suatu peristiwa terkena sukerta, ia akan menjadi mangsa Batara Kala. Untuk dapat melepaskan/membebaskan seseorang dari ancaman Batara Kala, maka masyarakat Jawa yang meyakini menyelenggarakan upacara ruwatan, yang telah tertata dan diatur secara tertib. Usaha yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa dengan mengadakan upacara ruwatan tersebut tak lain adalah untuk melindungi manusia dari segala ancaman bahaya. Koentjaraningrat memasukkan upacara ngruwat sebagai ilmu gaib protektif, yaitu upacara yang dilakukan dengan maksud untuk menghalau penyakit dan wabah, membasmi hama tanaman dan sebagainya, yang seringkali menggunakan mantra-mantra untuk menjauhkan penyakit dari bencana (Koentjaraningrat 1984). Dengan demikian masyarakat yang melaksanakan upacara ruwatan percaya bahwa mereka akan terlindungi dari ancaman mara bahaya. Thomas Wiyasa Bratawijaya pernah menyebutkan seseorang yang seharusnya diruwat, seperti: kedana-kedini, ontang-anting, julung wangi, julung pujud, margana, gondang kasih, dampit, unting-unting, lumunting, pendawa, pendawi, uger-uger lawang, kembang sepasang, orang yang menjatuhkan dandang, mematahkan batu gilasan, menaruh beras di dalam lesung, mempunyai kebiasaan membakar rambut dan tulang, dan membuat pagar sebelum rumahnya jadi (Bratawijaya 1988). Dalam upacara ruwatan, kecuali unsur sesajen, dalang pun juga sangat menentukan, dalam arti dialah sesungguhnya yang berfungsi sebagai penghubung antara dunia nyata (provan) dengan dunia gaib (supranatural). Pada kelanjutannya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa yang ada di dunia nyata mendapatkan pengaruh dari dunia gaib, demikian pula mengenai alam semesta (jagad raya), merupakan susunan yang teratur rapi dan bergerak sesuai dengan rotasi dan revolusinya. Apabila salah satu unsur jagad raya menyimpang dari ketentuan tersebut, maka jagad raya akan mengalami kegoncangan, oleh karena itu unsur yang satu dengan yang lainnya di dalam jagad raya merupakan sistem yang tertata rapi, serasi, dan harmonis. http://arsipbudayanusantara.blogspot.co.id/2012/12/ruwatan-upacara-pembebasan-malapetaka.html