Mikoshi Parade (Mikoshi Kids), Ennichisai, Japanese cultural festival in Blok M, South Jakarta, Indonesia.
Salah satu yang unik di Ennichisai 2017 adalah saat Mikhosi diarak keliling lokasi acara berlangsung, dan lebih menarik lagi saat pengusung Mikhosi ini adalah anak-anak balita.
==============
Mikoshi atau shin'yo (kuil portabel) adalah tandu yang dihias dengan megah seperti sebuah yagura, dan dipercaya dinaiki oleh objek pemujaan atau roh dari kuil Shinto di Jepang. Pada penyelenggaraan matsuri, mikoshi diusung beramai-ramai di pundak oleh para penganut, dan dibawa berpawai keliling kota.
Mikoshi dipakai untuk membawa objek pemujaan atau roh dari persemayaman permanen ke tempat peristirahatan sementara (otabisho) selama berlangsungnya matsuri, dengan maksud untuk menenangkan mereka. Sebagian besar mikoshi dibuat dari kayu yang dipernis hitam. Komponen terdiri dari sepasang kayu pemikul, bagian badan, dan atap. Dua batang kayu pemikul yang dipasang sejajar pada bagian bawah juga berfungsi sebagai penyangga bagian badan. Bentuk bagian badan bisa persegi, heksagonal, atau oktagonal.Pada puncak atap biasanya dipasang hiasan patung burung hōō.
Meski biasanya mikoshi dibawa berpawai dengan diusung ramai-ramai, ada pula mikoshi yang ditarik orang setelah dinaikkan ke atas kereta dorong atau gerobak. Bergantung kepada karakteristik matsuri, pawai mikoshi dapat pula diikuti oleh iring-iringan dashi, hoko, atau danjiri. Meski dulunya mikoshi hanya dimaksudkan untuk diusung oleh umat kuil tersebut yang disebut ujiko, kuil Shinto di kota-kota juga membolehkan pengunjung matsuri untuk berpartisipasi mengarak mikoshi.
Asal usul mikoshi tidak diketahui dengan jelas. Namun menurut catatan peristiwa pembangunan Nara Daibutsu di Nara (selesai tahun 750 M), sebuah ren'yo (tandu formal untuk mengangkut kaisar) dipakai untuk mengangkut objek pemujaan dari Usa Hachiman-gū dari Kyushu ke ibu kota Nara.
Sehubungan dengan menyebarnya kultus arwah penuh dendam (goryō) pada zaman Heian, mikoshi mulai dipakai di seluruh Jepang sebagai sarana transportasi mengangkut dewa.
===================
Matsuri [祭] adalah istilah agama Shinto yang berarti persembahan ritual untuk dewa [神 = Kami]. Matsuri berasal dari kata matsuru [祀る, menyembah, memuja] yang berarti pemujaan terhadap Kami atau ritual yang terkait. Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato.
Dalam pengertian sekuler, Matsuri berarti festival atau perayaan di Jepang. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut kunchi. Berbagai Matsuri diselenggarakan sepanjang tahun di berbagai tempat di Jepang. Sebagian besar penyelenggara Matsuri adalah kuil Shinto atau kuil Buddha. Walaupun demikian, ada pula berbagai “Matsuri” (festival) yang bersifat sekuler dan tidak berkaitan dengan institusi keagamaan.
Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan mikoshi, dashi (danjiri), dan yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai chigo (anak kecil dalam prosesi), miko (gadis pelaksana ritual), tekomai (laki-laki berpakaian wanita), hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar malam beraneka makanan dan permainan.
=====================
Tokyo Ennichisai Blok M adalah acara tahunan kulinari, seni dan kebudayaan Jepang tradisional dan modern yang diadakan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Sejak tahun 2010.
Dihadiri lebih dari 200 ribu pengunjung setiap tahunnya. Diramaikan oleh 150 stand makanan-minuman dan pernak pernik Jepang, juga pertunjukkan tradisional seperti Mikoshi, Dashi, dan performance Eisa, Yosakoi dan lainnya serta pertunjukkan modern seperti band dan Cosplay.
===================
Ennichisai 2017 digelar tanggal 13 & 14 Mei
Tema 2017 adalah:
CHALLENGE - 挑戦
Terinspirasi oleh pepatah "nanakorobi yaoki" yang berarti "tujuh kali jatuh, delapan kali bangun" menjadi sebuah tantangan untuk Ennichisai meraih kesuksesan dan perubahan positif di tahun yang ke-8 ini.
Ennichisai tahun ini sesuai tema Challlenge menggunakan logo Boneka Daruma yang dimaknai pantang menyerah.
Ketua panitia pelaksana, Nizarman Aminudin menjelaskan filosofi Ennichisai yang rutin diadakan sejak 2010 di kawasan Blok M untuk menggalang kerjasama internasional dengan pengusaha Jepang di Jaksel maupun di DKI pada umumnya. Serta menjalin pertukaran kebudayaan Jepang-Indonesia.