Home » People & Blogs » Lubang Kolam (Lubang Gelap)

Lubang Kolam (Lubang Gelap)

Written By Asmal Jubhar Nasution on Friday, Jan 30, 2015 | 10:53 AM

 
Wisata Lubang Kolam (Lubang Gelap)- KUOK Sebagian masyarakat Riau dan Sumatera Barat yang pernah melintas di Jalan Negara Riau-Sumbar sebelum adanya proyek pembangunan PLTA Koto Panjang pasti kenal dengan Lubang Kolam. Sebuah terowongan batu sepanjang lebih kurang 50 meter berada di Jalur Riau-Sumbar tepatnya di Desa Merangin Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar. Bagi yang ingin ke Sumbar atau sebaliknya pasti melewati Lubang Kolam selama lebih kurang satu menit. Kini Lubang Kolam yang sudah tidak dilalui lagi oleh kendaraan umum sejak tahun 1994 kembali mencuri perhatian masyarakat Riau-Sumbar bahkan turis mancanegara. Lubang Kolam seakan semakin menggoda orang untuk melihatnya kembali. Lubang Kolam adalah sebuah terowongan peninggalan Penjajah kolonial Belanda. Dulunya merupakan Jalur Darat yang menghubungkan Riau dan Sumbar. Namun semenjak adanya PLTA Koto Panjang, Terowongan yang panjangnya sekira 50 meter ini tidak lagi merupakan bagian badan jalan yang menghubungkan kedua provinsi karena jalan dialihkan ke jalan baru sekira 100 meter sebelum masuk Lubang Kolam. Lalu lintas Merangin menuju Nagari Tanjung Belit Kecamatan Pangkalan Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumbar ini dialihkan pada tahun 1994 lalu ketika Sungai Kampar mulai dibendung guna menggerakkan turbin PLTA Koto Panjang yang menenggelamkan delapan desa di Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar dan dua desa di Provinsi Sumbar. Lantas, kenapa baru sekarang Lubang Kolam mulai ramai dikunjungi masyarakat? Ternyata selama ini banyak yang mengira lubang yang dibangun pada tahun 1929 sebagaimana tertera di bagian atas di pintu masuk lubang kolam yang dipahat pekerja pembuat Lubang Kolam ikut tenggelam bersama Waduk PLTA Koto Panjang. Padahal posisi Lubang Kolam pas berada di belakang waduk PLTA Koto Panjang, hanya sekira 200 meter dari bibir bendungan PLTA Koto Panjang. Begitu adanya gapura objek wisata Lubang Kolam, banyak masyarakat baru sadar bahwa Lubang Kolam masih ada. Setelah tidak dipakai lagi, memang Lubang Kolam terkesan kotor dan banyak tanah dan lumpur menumpuk di badan jalan karena drainase di dalam Lubang Kolam tidak berfungsi lagi. Namun kini keadaan Lubang Kolam sudah berubah seiring kegiatan pembersihan dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kampar. Banyaknya masyarakat yang singgah atau sengaja melihat dari dekat Lubang Kolam karena baru-baru ini Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kampar membuat gapura di simpang pintu masuk menuju Lubang Kolam di Desa Merangin Kecamatan Kuok. Gapura selebar lebih kurang empat meter dan setinggi 3 meter itu bertuliskan Objek Wisata Lubang Kolam. Keberadaan gapura yang dibangun pertengahan tahun 2014 ini ternyata mengundang tanda tanya pengendara dan penumbang kendaraan umum yang selama ini pernah melewati Lubang Kolam. Bagi yang pernah melewati Lubang Kolam dan bahkan sering bolak balik Sumbar-Riau pasti memiliki kenangan tersendiri mengenai Lubang Kolam. Banyak cerita lama terkuak mengenai Lubang Kolam. Jika bepergian Sumbar-Riau sudah pasti dulu melewati Lubang Kolam ini. Jika menggunakan kendaraan, Lubang Kolam dilewati hampir selama satu menit. Keberadaan gapura objek wisata Lubang Kolam juga menjadi buah bibir di kalangan generasi muda dan masyarakat pada umumnya. Banyak yang sengaja membawa anak-anaknya melihat Lubang Kolam dan tak jarang mengambil beberapa sesi berfoto ria. Cerita mengenai Lubang Kolam juga makin ramai di media sosial seperti facebook dan twitter. Status dan kicauan mengenai Lubang Kolam selalu ramai dikomentari. "Kami selama ini mengira Lubang Kolam ini tenggelam, ternyata masih ada, kami penasaran sekali, makanya bawa anak-anak ke sini sambil menceritakan bahwa dulu kalau pulang kampung ke Sumbar melewati Lubang ini," ujar Ridawati (45), salah seorang ibu rumah tangga yang bermukim di Pekanbaru kepada wartawan akhir pekan kemarin. Beberapa warga menyambut baik adanya pengembangan sebagai objek wisata yang baru karena Lubang Kolam menyimpan cerita dan sejarah masa lalu saat penjajahan Belanda di Indonesia. Arsitektur Lubang Kolam juga mengundang decak kagum karena rumitnya proses pembuatan Lubang Kolam yang menjadi jalur lalu lintas di Sumatera. Kita berharap agar Pemerintah terus mengembangkan objek wisata ini sehingga bisa menambah pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah.